Mari berdoa…

July 2, 2009

Ya Allah, ya Tuhan kami… sungguh malam ini hamba tak dapat memejamkan mata ini… Dalam keterjagaan hamba, hamba memanjatkan doa keselamatan… Lindungi bangsa kami dari keterpurukan, lindungi bangsa kami dari kebinasaan, jauhkan bangsa kami dari kemiskinan, jauhkan bangsa kami dari kebodohan, hindarkan bangsa kami dari kelaparan, hindarkan bangsa kami keputusasaan…

Bangkitkan kami atas segala ikhtiar yang kami lakukan, kuatkan kami dari segala kejahatan yang mendekati kami, jadikan bangsa kami senantiasa dalam rasa syukur, dekatkan kami kepada ilmu pengetahuan di semesta-Mu, jadikan perut-perut kami kenyang, dan hidupkan ruh2 serta jiwa kami dalam perjuangan dan semangat yang tiada henti-hentinya…

Semoga Pemilihan Presiden yang akan dilewati bangsa kami menjadi suatu titik balik bagi kami untuk dapat berintropeksi diri, lebih bersyukur, lebih banyak belajar, lebih pintar, dan menjadi lebih mendapatkan tempat terhormat di antara bangsa-bangsa yang ada di dunia ini… Jadikan pimpinan kami seorang yang arif dan bijaksana, berakhlak mulia, dan panjang akal serta pikirannya agar negeri ini lebih baik di hari esok…


Mau Kaya?

June 30, 2009

Bismillahirohmanirrohiim

Berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, saya dipertemukan dengan hamba-Nya yang satu ini. Beliau adalah seorang leader yang selalu mengayomi, memberikan bimbingan, semangat, inspirasi, ide dan gagasan segar. Beliau seorang pemimpin yang mampu menggerakkan ratusan hingga ribuan anak buahnya. Beliau seorang guru yang memiliki lautan ilmu, yang selalu siap ditimba oleh anak-anaknya dan bagai tiada pernah habis.

71014_MoneyHappiness_vl-verticalSaat ini beliau memiliki berbagai macam bidang usaha, di antaranya sebagai supplier dan distribusi alat dan produk kesehatan, puluhan hektar tambak, puluhan hektar ladang, berpuluh rumah kos, ruko, stand penjualan di mall, apartemen dan lain-lain. Pernah saya mencoba menghitung, penghasilan beliau bisa mencapai Rp 1 Milyar per bulannya. Sebuah pencapaian luar biasa bagi saya dan kebanyakan orang lain.

Pertemuan antara saya dan beliau yang saya ceritakan di bawah ini terjadi beberapa tahun yang lalu, di saat penghasilan beliau masih berkisar Rp 200 juta per bulan. Bagi saya, angka ini pun sudah bukan main dahsyatnya. Sengaja saya tidak menyebutkan namanya, karena cerita ini saya publish belum mendapatkan ijin dari beliau. Kita ambil wisdomnya saja ya.

Suatu hari, terjadilah dialog antara saya dengan beliau di serambi sebuah hotel di Bandung . Saya ingat, beliau berpesan bahwa beliau senang ditanya. Kalau ditanya, maka akan dijelaskan panjang lebar. Tapi kalau kita diam, maka beliau pun akan “tidur”. Jadilah saya berpikir untuk selalu mengajaknya ngobrol. Bertanya apa saja yang bisa saya tanyakan.

Sampai akhirnya saya bertanya secara asal, “Pak, Anda saat ini kan bisa dibilang sukses. Paling tidak, lebih sukses daripada orang lain. Lalu menurut Anda, apa yang menjadi rahasia kesuksesan Anda?”

Tak dinyana beliau menjawab pertanyaan ini dengan serius.

” Ada empat hal yang harus Anda perhatikan,” begitu beliau memulai penjelasannya.

RAHASIA PERTAMA
“Pertama. Jangan lupakan orang tuamu, khususnya ibumu. Karena ibu adalah orang yang melahirkan kita ke muka bumi ini. Mulai dari mengandung 9 bulan lebih, itu sangat berat. Ibu melahirkan kita dengan susah payah, sakit sekali, nyawa taruhannya. Surga di bawah telapak kaki ibu. Ibu bagaikan pengeran katon (Tuhan yang kelihatan).

Banyak orang sekarang yang salah. Para guru dan kyai dicium tangannya, sementara kepada ibunya tidak pernah. Para guru dan kyai dipuja dan dielukan, diberi sumbangan materi jutaan rupiah, dibuatkan rumah; namun ibunya sendiri di rumah dibiarkan atau diberi materi tapi sedikit sekali. Banyak orang yang memberangkatkan haji guru atau kyainya, padahal ibunya sendiri belum dihajikan. Itu terbalik.

Pesan Nabi : Ibumu, ibumu, ibumu… baru kemudian ayahmu dan gurumu.
Ridho Allah tergantung pada ridho kedua orang tua. Kumpulkan seribu ulama untuk berdoa. Maka doa ibumu jauh lebih mustajabah.”

Beliau mengambil napas sejenak.

RAHASIA KEDUA
“Kemudian yang kedua,” beliau melanjutkan. “Banyaklah memberi. Banyaklah bersedekah. Allah berjanji membalas setiap uang yang kita keluarkan itu dengan berlipat ganda. Sedekah mampu mengalahkan angin. Sedekah bisa mengalahkan besi. Sedekah membersihkan harta dan hati kita. Sedekah melepaskan kita dari marabahaya. Allah mungkin membalas sedekah kita dengan rejeki yang banyak, kesehatan, terhindarkan kita dari bahaya, keluarga yang baik, ilmu, kesempatan, dan lain-lain.

Jangan sepelekan bila ada pengemis datang meminta-minta kepadamu. Karena saat itulah sebenarnya Anda dibukakan pintu rejeki. Beri pengemis itu dengan pemberian yang baik dan sikap yang baik. Kalau punya uang kertas, lebih baik memberinya dengan uang kertas, bukan uang logam. Pilihkan lembar uang kertas yang masih bagus, bukan yang sudah lecek. Pegang dengan dua tangan, lalu ulurkan dengan sikap hormat kalau perlu sambil menunduk (menghormat) . Pengemis yang Anda beri dengan cara seperti itu, akan terketuk hatinya, ‘Belum pernah ada orang yang memberi dan menghargaiku seperti ini.’ Maka terucap atau tidak, dia akan mendoakan Anda dengan kelimpahan rejeki, kesehatan dan kebahagiaan.

Banyak orang yang keliru dengan menolak pengemis yang mendatanginya, bahkan ada pula yang menghardiknya. Perbuatan itu sama saja dengan menutup pintu rejekinya sendiri.

Dalam kesempatan lain, ketika saya berjalan-jalan dengan beliau, beliau jelas mempraktekkan apa yang diucapkannya itu. Memberi pengemis dengan selembar uang ribuan yang masih bagus dan memberikannya dengan dua tangan sambil sedikit membungkuk hormat. Saya lihat pengemis itu memang berbinar dan betapa berterima kasihnya.

RAHASIA KETIGA
“Allah berjanji memberikan rejeki kepada kita dari jalan yang tidak disangka-sangka, ” begitu beliau mengawali penjelasannya untuk rahasia ketiganya. “Tapi sedikit orang yang tahu, bagaimana caranya supaya itu cepat terjadi? Kebanyakan orang hanya menunggu. Padahal itu ada jalannya.”

“Benar di Al Quran ada satu ayat yang kira-kira artinya : Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya diadakan-Nya jalan keluar baginya dan memberinya rejeki dari jalan/pintu yang tidak diduga-duga” , saya menimpali (QS Ath Thalaq 2-3).

“Nah, ingin tahu caranya bagaimana agar kita mendapatkan rejeki yang tidak diduga-duga? ,” tanya beliau.

“Ya, bagaimana caranya?” jawab saya. Saya pikir cukup dengan bertaqwa, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka Allah akan mengirim rejeki itu datang untuk kita.

“Banyaklah menolong orang. Kalau ada orang yang butuh pertolongan, kalau ketemu orang yang kesulitan, langsung Anda bantu!” jawaban beliau ini membuat saya berpikir keras. “Saat seperti itulah, Anda menjadi rejeki yang tidak disangka-sangka bagi orang itu. Maka tentu balasannya adalah Allah akan memberikan kepadamu rejeki yang tidak disangka-sangka pula.”

“Walau pun itu orang kaya?” tanya saya.

“Ya, walau itu orang kaya, suatu saat dia pun butuh bantuan. Mungkin dompetnya hilang, mungkin ban mobilnya bocor, atau apa saja. Maka jika Anda temui itu dan Anda bisa menolongnya, segera bantulah.”

“Walau itu orang yang berpura-pura? Sekarang kan banyak orang jalan kaki, datang ke rumah kita, pura-pura minta sumbangan rumah ibadah, atau pura-pura belum makan, tapi ternyata cuma bohongan. Sumbangan yang katanya untuk rumah ibadah, sebenarnya dia makan sendiri,” saya bertanya lagi.

“Ya walau orang itu cuma berpura-pura seperti itu,” jawab beliau. “Kalau Anda tanya, sebenarnya dia pun tidak suka melakukan kebohongan itu. Dia itu sudah frustasi karena tidak bisa bekerja atau tidak punya pekerjaan yang benar. Dia itu butuh makan, namun sudah buntu pikirannya. Akhirnya itulah yang bisa dia lakukan. Soal itu nanti, serahkan pada Allah. Allah yang menghakimi perbuatannya, dan Allah yang membalas niat dan pemberian Anda.”

RAHASIA KEEMPAT
Wah, makin menarik, nih. Saya manggut-manggut. Sebenarnya saya tidak menyangka kalau pertanyaan asal-asalan saya tadi berbuah jawaban yang begitu serius dan panjang. Sekarang tinggal satu rahasia lagi, dari empat rahasia seperti yang dikatakan beliau sebelumnya.

“Yang keempat nih, Mas,” beliau memulai. “Jangan mempermainkan wanita”.

Hm… ini membuat saya berpikir keras. Apa maksudnya. Apakah kita membuat janji dengan teman wanita, lalu tidak kita tepati? Atau jangan biarkan wanita menunggu? Seperti di film-film saja.

“Maksudnya begini. Anda kan punya istri, atau suami. Itu adalah pasangan hidup Anda, baik di saat susah maupun senang. Ketika Anda pergi meninggalkan rumah untuk mencari nafkah, dia di rumah menunggu dan berdoa untuk keselamatan dan kesuksesan Anda. Dia ikut besama Anda di kala Anda susah, penghasilan yang pas-pasan, makan dan pakaian seadanya, dia mendampingi Anda dan mendukung segala usaha Anda untuk berhasil.”

“Lalu?” saya tak sabar untuk tahu kelanjutan maksudnya.

“Banyak orang yang kemudian ketika sukses, uangnya banyak, punya jabatan, lalu menikah lagi. Atau mulai bermain wanita (atau bermain pria, bagi yang perempuan). Baik menikah lagi secara terang-terangan, apalagi diam-diam, itu menyakiti hati pasangan hidup Anda. Ingat, pasangan hidup yang dulu mendampingi Anda di kala susah, mendukung dan berdoa untuk kesuksesan Anda. Namun ketika Anda mendapatkan sukses itu, Anda meninggalkannya. Atau Anda menduakannya. ”

Oh… pelajaran monogami nih, pikir saya dalam hati.

“Banyak orang yang lupa hal itu. Begitu sudah jadi orang besar, uangnya banyak, lalu cari istri lagi. Menikah lagi. Rumah tangganya jadi kacau. Ketika merasa ditinggalkan, pasangan hidupnya menjadi tidak rela. Akhirnya uangnya habis untuk biaya sana-sini. Banyak orang yang jatuh karena hal seperti ini. Dia lupa bahwa pasangan hidupnya itu sebenarnya ikut punya andil dalam kesuksesan dirinya,” beliau melanjutkan.

Hal ini saya buktikan sendiri, setiap saya datang ke rumahnya yang di Waru Sidoarjo, saya menjumpai beliau punya 1 istri, 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan.

Perbincangan ini ditutup ketika kemudian ada tamu yang datang….

KEDAHSYATAN SEDEKAH
Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala, dan melipatgandakan rezeki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah!

Sahabat, betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah yang disertai dengan hati ikhlas, sampai-sampai Rasul sendiri membuat perbandingan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut.

Kemudian mereka bertanya, ‘Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?’.

Allah menjawab, ‘ Ada , yaitu besi’.

Para malaikat pun kembali bertanya, ‘Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari besi?’.

Allah menjawab, ‘ Ada , yaitu api’.

Bertanya kembali para malaikat, ‘Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari api?’.

Allah menjawab, ‘ Ada , yaitu air’.

‘Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?’ tanya para malaikat.

Allah pun menjawab, ‘ Ada , yaitu angin’.

Akhirnya para malaikat bertanya lagi, ‘Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?’.

Allah yang Mahakaya menjawab, ‘ Ada , yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya’ .”

Subhanallah. …

Sumber : tahajjud_call@yahoogroups.com


Selamat Datang di Dunia Usaha, Sobat…

June 29, 2009

473476_f260 Selamat datang ke dunia usaha Sob (Sobat, red)… Resiko senantiasa menjadi komponen dlm menjalani usaha… Selama Sobat msh menghadapi masalah usaha apapun itu namun masih dapat mengatasinya, terus nikmati hingga membuahkan hasil… Semuanya butuh kesabaran… Bnyk pengusaha-pengusaha besar memulai usaha dgn menangguk kerugian dulu di awal usaha… Hutang dan kerugian puluhan bahkan ratusan juta sdh menjadi therapi utk melahirkan pengusaha tangguh… Depresi, stress, mungkin udh menjadi makanan sehari2 sampai akhirnya kebal dengan hal2 tsb… :)

Tapi catetan penting pula, hal ini jg bukan ukuran mutlak… Ada jg yg berhasil melejit dlm hitungan kilat dan instan… tergantung pribadi, pembelajaran, persiapan, dan keberuntungan. .. Atau ada pula yg terlahir dr benih seorang pengusaha besar dan mmg terlahir utk mewarisi kerajaan bisnis keluarga, yg tinggal menikmati hasil hanya dengan sedikit polesan saja… Baik pengusaha besar ataupun pengusaha kecil-menengah, yg penting keuletan dan semangat juangnya lah yg patut ditumbuhkembangkan. ..

Satu hal yang utama, kembalikan lg ke niat Sobat semula… “Saya ingin memulai usaha untuk menjadi PENGUSAHA… “

Semuanya kudu dihadapi dengan lapang dada… Tidak menjadikan masalah besar menjadi hal yg rumit… Lebih kepada pikiran yg dingin untuk mem-breakdown action2 yg kita lakukan utk mengembangkan usaha yg kita jalani… Maaf, bila sahabat-sahabat adalah muslim, jangan lupakan Allah SWT Sang Pencipta dalam menjalankan usaha… Selalu memohon petunjukNya. .. Ikhtiar… :)

Semoga ada teman2 yg jauh lbh berpengalaman dan bisa menjadi navigator dpt men-share jg kpd para pengusaha Indonesa…

Wass,
Bung Tanno


Lanjutkan Perjuangan

November 9, 2008
Tak pelak peperangan merupakan sesuatu yang tak dapat dihindari… Perdamaian hanya akan dicapai melalui sebuah peperangan.. .
Benar atau tidak? Tidak ada jawaban mutlak untuk itu. Namun, bagaimanapun ketidakseimbangan senantiasa terus mengiringi perjalanan hidup manusia, khususnya, dan bangsa-bangsa di dunia, pada umumnya.
 
Bagaimanapun, utamanya buat kita adalah terus memperhatikan sendi-sendi pembangunan Negara dan Bangsa dalam rangka sekaligus membangun Pertahanan negara yang modern dan efektif . Tentu hal ini perlu diimbangi dengan pendidikan dan teknologi serta perekonomian yang kuat sebagai penyokong tulang punggung keberlangsungan hidup Bangsa…
 
Tak ayal pula, jika hal tersebut membutuhkan semua komponen bangsa dalam melaksanakan perjuangan dalam bentuk apapun untuk menjaga kedaulatan negara dan bangsa sehingga dapat terwujud Masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.
Bukan begitu? Ya, semoga begitu…
Negeri ini butuh Sahabat-sahabat Yang Penuh Semangat Membangun

Negeri ini butuh Sahabat-sahabat Yang Penuh Semangat Membangun

Si Vis Pacem Para Bellum, Jika mengharapkan perdamaian, bersiaplah untuk perang…


Perjalanan

October 26, 2008

Perjalanan itu masih panjang… Perjalanan itu tidak sesederhana yang engkau bayangkan… Namun, perjalanan itu telah membuatmu belajar, bagaimana menghargai sesuatu hal yang harus engkau capai melalui perjalanan itu…


Telah Mati… Terbunuh… Idealisme…

October 20, 2008

Saya bukan mahasiswa yg senang berdemonstrasi di panggung kemahasiswaan. Demonstrasi yg saya lihat sudah tidak lagi menjadi cara yg ampuh untuk menyampaikan sebuah aspirasi.Pada dasarnya, demonstrasi yang saya lihat di ITB identik mulai dari melawan segala bentuk ketidakwajaran jalannya pemerintahan Republik Indonesia sampai dengan hal ketidaksewenang-wenangan kebijakan Rektor ITB. Tapi, selama saya duduk di bangku kuliah, tak pernah ada demonstrasi besar dan keren yg diusung oleh kemahasiswaan. Saya tidak tahu persis, apakah memang selama saya kuliah tidak ada isu besar yg mengguncang dan menggelitik mahasiswa untuk berdemonstrasi?

Idealisme sebagai seorang mahasiswa memang seolah bangkit dan bersemi di dalam jiwa ketika berdemonstrasi. Pada kenyataannya, kalaupun ada isu yg merisihkan hati beribu-ribu mahasiswa, seolah isu itu pun dianggap dingin dan hanya segelintir (atau puluhan) mahasiswa saja yg turun untuk berkoar-koar, minimal berbaris di depan gerbang Ganesha. Sementara, saya dan teman-teman lain lewat melihat demonstrasi yang hanya diisi oleh sekumpulan kecil mahasiswa saja. Tidak menarik! Ya, teman-teman mahasiswa yg lain sudah disibukkan oleh tugas-tugas, kuis-kuis, dan ujian-ujian. Saya pun hanya berpikir…apakah demonstrasi ini penting?

***

Lebih kurang 4,5 tahun saya menempuh pendidikan di kampus Ganesha. 4,5 tahun pula saya bercengkrama dengan teman-teman. Berbincang dengan teman-teman tentang cita-cita dan harapan setelah lulus nantinya. Ada yang menjawab dengan cara menjadi seorang profesional yg handal di perusahaan multinasional, BUMN, dan asing. Ada yg ingin menempuh karir pemerintahan melalui departemen, instansi, dan dinas-dinas yg ada. Sebagian mengungkapkan ingin menempuh jalur sebagai pendidik di berbagai universitas. Ada pula yang ingin menjadi pengusaha nasional. Bahkan ada juga yg ingin menjadi artis dan selebritis.

Tapi, yang menarik dari berbagai obrolan yg terjadi adalah, hampir dari seluruh teman-teman yang pernah saya ajak mengobrol, menyampaikan dengan penuh semangat tentang harapan ingin berdedikasi dan mengabdi pada pembangunan di tanah air. Bagaimana bentuk dedikasi dan pengabdian itu? Mereka ingin, jika mereka mengerahkan tenaga dan pikiran, itu adalah dalam rangka berpartisipasi membangun Indonesia tercinta. Ada yg lantang berpendapat menuntaskan masalah pelik dalam negeri, seperti korupsi yg hina dina di Pemerintahan kita. “Oh ya?”

***

Saya sangat mengenang tentang masa-masa berdiskusi dengan teman-teman yg punya cita-cita yg sama tentang menuntaskan segala permasalahan yg ada di negeri ini. Pemikiran yg sama tentang merubah cara pandang bangsa agar lebih terbuka dan mau maju. Pemikiran yg sama untuk membangun sikap dan mental yg terpuji serta mulia. Dimana teman-temanku itu?

Namun, ketika telah dideklarasikan kelulusan diri sebagai sarjana, perlahan-lahan harapan itu seolah-olah tak terngiang lagi. Pada akhirnya kita disibukkan dengan upaya untuk memenuhi kebutuhan dan gaya hidup kita. Yang kita inginkan adalah ketika berkumpul kembali bersama teman-teman yang lain, kata-kata sukses dan sudah berduit yang kita dengar. Kata-kata yang merupakan buah manis setelah lulus kuliah. Itu tidak salah, tuntutan hidup telah menjadikan kita sebagai orang-orang yg harus bersaing dan mampu bertahan hidup.

***

Teman, apakah arti idealisme? Apakah arti memikirkan negara?

Menjawab arti idealisme, seperti tidak menemukan jawaban yg tepat. Yang saya tahu, idealisme adalah suatu paham tentang keinginan mewujudkan sesuatu menurut yang dicita-citakan (atau sesuai pada tempatnya). Sederhananya, Pemerintah tidak boleh korupsi, Bangsa Indonesia harus mencapai kesejahteraan sesuai yg dicita-citakan oleh Pembukaan UUD ‘45, Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia, ataupun Negara Indonesia harus maju dan sejajar dengan Negara maju lainnya , dll.

“Buat apa lagi memikirkan negara?” itu kata salah satu teman saya. Pikirkan saja diri sendiri dulu. Teman saya tidak salah. Seolah menyadari bahwa gaung-gaung yg bergema ketika mahasiswa dulu tidak memberikan penghidupan sama sekali saat ini. Benar, pada akhirnya kita disibukkan oleh berbagai tuntutan untuk mencari uang agar bisa menabung, membeli sesuatu, dan menyenangkan orang tua, menyenangkan pacar, menyenangkan bini, hura-hura, dsb. Akhirnya hidup pun terprogram untuk melakukan aktifitas rutin harian menyelesaikan pekerjaan dan memperoleh uang. Ya, sekali lagi, uang!

Saya pun masih ingat dengan diskusi yang dulu sering saya lakukan bersama teman-teman tentang bobroknya pemerintahan dalam menjalankan program pembangunan. Diskusi tersebutnya seharusnya membuahkan komitmen untuk memperbaiki cara kerja pemerintah. Namun, sekali lagi, komitmen itu seolah luntur dan tak ada sisa waktu lagi untuk memikirkan masalah memperbaiki kondisi tersebut. Apakah waktu sudah dibeli oleh uang? Akhirnya, saya pun tak menyalahkan teman-teman saya tersebut bahwa pekerjaan rutin harus diselesaikan sesuai dadline dan dia harus memperoleh uang untuk penghidupan dan gaya hidup.

Bahkan, saya tak ingin munafik, hampir sebagian di jiwa dan diri saya tumbuh jiwa kapitalisme. Tapi, saya terus dituntut untuk belajar bagaimana peduli terhadap orang lain. Ada banyak cara untuk memperhatikan lingkungan ini, itu yang saya peroleh. Saya tidak ingin semata-mata tumbuh sebagai seorang kapitalis buta hati. Hmmm, dua hal yang bertentangan menggerogoti jiwa dan pemikiran saya, antara idealisme dan kapitalisme…

Saya tak ingin bercerita panjang lebar…bagaimana sebuah idealisme yg mulai terkikis oleh perputaran waktu. Karena bagi saya, yg menjadi fokus utama saat ini adalah bagaimana kedepannya mencapai perubahan dan perbaikan terhadap sesuatu hal yg belum ideal pada tempatnya, teman?

Apakah idealisme sudah tak lagi tumbuh di hati kita? Apakah idealisme sdh mati tebunuh diantara tuntutan kehidupan kita?

Harapan saya… Saya percaya dan yakin bahwa idealisme itu masih tumbuh di beberapa hati teman-teman yang lain. Bahkan, idealisme mungkin belum seutuhnya mati… semoga idealisme itu hanya “mati suri”…

***

“Pada intinya, kita para sarjana sudah seharusnya menjadi sebuah perangkat solusi bagi bangsa dan negara ini. Kita mempersiapkan diri untuk menjadi bagian terpenting dari kemajuan negeri ini. Mari tumbuh kembangkan pada sikap dan mental kita untuk mendobrak cara berpikir yang konservatif. Dengan perasaan yang optimis, “Saya pikir setiap orang akan memiliki buah pikiran yang brilian untuk mewujudkan Indonesia yang brilian pula. Saya harap itu merupakan langkah awal agar menjadi manusia yang tidak biasa-biasa saja, warga negara yang tidak biasa-biasa saja,” sambil tersenyum.


FAJAR HARAPAN UNTUK NUSANTARA

October 20, 2008
Masih ada secercah harapan tentang kebangkitan negeri ini...

Masih ada secercah harapan tentang kebangkitan negeri ini...

Kala aku menyongsong fajar harapan
Ketika mentari pagi terbit di ufuk timur
Ketika embun pagi memberi kesejukan nusantara

Menanti dalam keyakinan
Mendoakan tanah air tanah tumpah darahku
Untuk bangkit dan meraih kesejahteraan dan kejayaan nusantara

Kusingsingkan lengan bajuku
Menaruh impian dan cita-cita bangsaku
Mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia
Untuk mengangkat derajat bangsa ini sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya
Membawa Indonesia ke depan pintu gerbang masyarakat adil dan makmur

Percayalah… kejayaan Nusantara berawal dari kejayaan-kejayaan kecil. Kejayaan itu dimulai dari sini. Saat ini, kita merayakan kejayaan yang baru saja kita raih. Saat kita berkumpul di sini, dengan penuh keyakinan menyatakan kejayaan yang senantiasa akan kita raih.

Darah kami yang mengalir, keringat kami yang mengucur… jiwa dan raga kami… berarti pengorbanan kami untuk Nusantara…


Sebuah Gantungan Kunci

October 17, 2008
"Aku Titipkan Negeri ini Padamu"

"Aku Titipkan Negeri ini Padamu"

Tak ada yang istimewa bila hanya bercerita tentang sebuah gantungan kunci, tanpa lebih tahu cerita apa yang ada di baliknya… Aku memiliki sebuah gantungan kunci yang selalu aku bawa. Bukan karena dia menggantungi kunci kendaraan ataupu kunci rumah, bahkan ia sama sekali tidak menggantungi kunci apapun…

Setiap hai, gantungan kunci ini kubawa kemana aku pergi. Ia dengan setia bemukim di kantong celanaku. Entahlah, aku hanya senang membawanya pergi saja kemanapun. Yang membuat aku selalu membawanya karena di gantungan kunci tersebut tertulis pesan seorang bapak bangsa Indonesia, “Aku Titipkan Negeri ini Padamu”

Seolah gantungan kunci tersebut menjadi pengingat bagiku untuk terus membangun tanah airku. Jangan pernah lelah…


Aku dan Nasionalisme

September 25, 2008
Batik di Tubuhku
Batik di Tubuhku

Nasionalisme adalah jiwa yang kubangun. Bangga sebagai Bangsa Indonesia dan tak malu mengakui darah Pribumiku. Aku adalah Putra Indonesia dengan nasionalis yang bersemai didadaku. Apa arti Nasionalisme itu?

Ya, Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. Inilah salah satu identitas yang mungkin bisa mewakili rasa nasionalisme kita sebagai Bangsa Indonesia, yakni “Batik”.
Memang, bukan berarti dari sejak bangun tidur hingga kembali tidur, saya berbusana batik. Namun, dengan berbatik, saya merasa memiliki rasa bangga dan kobaran semangat patriot sebagai pemuda Indonesia yang akan berjuang mempertahankan kedaulatan Indonesia di mata dunia. Indonesia akan terus bangkit dan maju!

Mengubah Dunia…

September 25, 2008

Saya sangat tertegun ketika mendengar cerita berikut ini.

“Ketika aku muda, aku ingin mengubah seluruh dunia. Karena banyak kelaparan, banyak penyakit, banyak kerusuhan, banyak kerusakan lingkungan, banyak terorisme, banyak hal yang lainnya yang kurang nyaman.)

Lalu aku sadari, betapa sulit mengubah seluruh dunia ini, lalu aku putuskan untuk mengubah negaraku saja.

Ketika aku sadari bahwa aku tidak bisa mengubah negaraku, aku mulai berusaha mengubah kotaku.

Ketika aku semakin tua, aku sadari tidak mudah mengubah kotaku.

Maka aku mulai mengubah keluargaku.

Kini aku semakin renta, aku pun tak bisa mengubah keluargaku.

Aku sadari bahwa satu-satunya yang bisa aku ubah adalah diriku sendiri.

Tiba-tiba aku tersadarkan bahwa bila saja aku bisa mengubah diriku sejak dahulu, aku pasti bisa mengubah keluargaku dan kotaku. Pada akhirnya aku akan mengubah negaraku dan aku pun bisa mengubah seluruh dunia ini.”

Tidak ada yang bisa kita ubah sebelum kita mengubah diri sendiri. Tak bisa kita mengubah diri sendiri sebelum mengenal diri sendiri. Takkan kenal pada diri sendiri sebelum mampu menerima diri ini apa adanya.

Setelah selesai mendengar cerita ini, saya merasakan betapa kerdilnya saya di dunia yang sangat luas ini. Tak perlu membuang waktu lagi, belajar menjadi manusia yang lebih baik daripada hari kemarin. Senantiasa meningkatkan diri, terus berjuang, terus berjuang, dan terus berjuang…